Malam itu, suasana kos sederhana Jeffri mendadak terasa mencekam. Ia baru saja memarkir motor ketika mendapati ada dua pria berjas hitam berdiri di depan pintu kamarnya.
“Jeffri, ya?” tanya salah satunya dengan nada dingin.
Jeffri berhenti, menatap waspada. “Iya, ada apa?”
Pria itu menyelipkan amplop tebal ke tangannya. “Ini pesan dari Pak Arman. Ambil uang ini, menjauh dari Bu Rani, dan kita anggap nggak pernah kenal.”
Jeffri menatap amplop itu lama, lalu mengembalikannya. “Saya kerja narik ojol, bukan jual harga diri.”
Tatapan kedua pria itu berubah tajam. “Kalau begitu, jangan salahkan kami kalau hidupmu jadi susah.” Mereka pergi, meninggalkan Jeffri dengan dada berdegup kencang.
Sementara itu, di apartemennya, Rani duduk gelisah. Pesan singkat dari Arman baru saja masuk:
"Lihat baik-baik, Rani. Aku bisa hancurkan siapa saja yang dekat sama kamu. Termasuk driver kesayanganmu itu."
Rani menjatuhkan ponselnya, tubuhnya lemas. “Kenapa harus begini…?” gumamnya lirih.
Keesokan harinya, Rani sengaja memesan ojol lagi, berharap bisa bertemu Jeffri. Begitu masuk ke mobilnya, ia langsung berkata, “Jeffri, kamu harus hati-hati. Arman tahu segalanya. Dia sudah mulai mengancam.”
Jeffri hanya tersenyum tipis, mencoba menenangkan. “Mbak nggak usah khawatir. Saya udah biasa susah. Yang penting Mbak jangan terus-terusan disiksa kayak gini.”
Rani menoleh cepat, matanya berkilat. “Kamu nggak ngerti, Jeffri! Kalau dia serius, hidup kamu bisa hancur.”
Jeffri menatapnya dalam-dalam, nada suaranya mantap.
“Kalau hidup saya harus hancur cuma karena saya ada di samping Mbak, berarti itu risiko yang saya pilih. Saya nggak akan mundur.”
Rani tercekat. Air matanya jatuh begitu saja. Di saat semua orang tunduk pada Arman, justru Jeffri—seorang driver sederhana—yang berani berdiri untuknya.
Dan itu membuat hatinya semakin goyah.
To be continued… (Part 8: Rani di Persimpangan – Cinta atau Kekuasaan)