Siang itu, langit Jakarta mendung lagi. Rani meminta Jeffri berhenti di sebuah taman kota yang cukup sepi. Ia ingin menghirup udara bebas, melepas sesak setelah pengakuannya tadi.
Mereka duduk di bangku kayu, di bawah pohon rindang. Rani melepaskan blazer, menyisakan blus putih sederhana yang membuat dirinya tampak jauh lebih santai dibanding sosok direktur biasanya. Rambutnya yang sedikit berantakan justru menambah sisi rapuhnya.
Jeffri memperhatikannya. “Mbak Rani kelihatan beda kalau kayak gini. Lebih… manusiawi.”
Rani terkekeh pelan, menoleh padanya. “Selama ini aku seperti pakai topeng. Sama semua orang aku harus terlihat kuat, padahal… aku lelah.”
Hening sejenak. Tatapan mereka bertemu. Rani perlahan menundukkan pandangan, tapi Jeffri tetap menatapnya dengan sorot yang hangat.
Tiba-tiba, embusan angin membuat anak rambut Rani menempel di pipinya. Tanpa berpikir panjang, Jeffri mengulurkan tangan, menyingkirkannya dengan lembut. Gerakan kecil itu membuat Rani terdiam, wajahnya memerah samar.
“Makasih,” ucap Rani lirih, suaranya hampir berbisik.
Jeffri tersenyum. “Saya cuma… nggak tega lihat Mbak terus-terusan sendirian.”
Momen itu hampir membuat jarak di antara mereka hilang. Jemari Rani nyaris bergerak mencari genggaman, tapi sebelum sempat, ponselnya kembali berdering.
Nama yang muncul di layar: Komisaris Arman.
Rani membeku. Jemarinya gemetar saat memegang ponsel itu. Jeffri bisa melihat jelas ketakutannya.
“Angkat saja, Mbak,” kata Jeffri tenang. “Saya di sini.”
Dengan ragu, Rani menjawab panggilan itu. Suara berat Arman terdengar jelas, penuh tekanan.
“Rani, aku dengar kamu sering keluar sama driver ojol itu. Jangan main-main. Kamu tahu risikonya.”
Wajah Rani pucat. Matanya melirik ke arah Jeffri, seolah meminta kekuatan. Jeffri balas menatapnya, tegas dan penuh keyakinan.
Setelah menutup telepon, Rani menunduk, bahunya bergetar. “Dia tahu… Jeffri. Aku takut.”
Jeffri meraih tangannya, menggenggam erat. “Kalau dia berani ganggu Mbak, berarti dia harus berhadapan sama saya juga.”
Rani menatapnya lama, ada rasa takut sekaligus harapan. Dalam genggaman Jeffri, untuk pertama kalinya ia merasa punya pelindung.
To be continued… (Part 7: Ancaman yang Semakin Nyata)