Acara perusahaan akhirnya selesai larut malam. Ballroom perlahan kosong, musik berhenti, dan tamu-tamu mulai pulang dengan mobil mewah masing-masing.
Rani melangkah keluar dengan langkah teratur, di samping Arman yang masih menempel seperti bayangan. Senyum tipis tetap ia pasang, meski hatinya bergejolak.
Namun begitu tiba di lobi, pandangan matanya mencari. Dan di sana—di sudut parkiran basement—Jeffri berdiri dengan helm di tangan, seolah menunggu.
Rani menahan napas. Ia tahu ini gila, tapi dorongan hatinya terlalu kuat. Ia menoleh ke Arman dan berkata cepat, “Aku butuh ke toilet sebentar.”
Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan menjauh. Begitu sampai ke area sepi parkiran, Jeffri mendekat.
“Mbak Rani…” suaranya lirih, penuh rindu meski baru beberapa jam lalu mereka bertemu.
Rani berhenti tepat di depannya. Gaun hitamnya berkilau samar diterpa lampu neon parkiran. Tatapan matanya gemetar, campuran antara lega dan takut.
“Kenapa kamu datang?” bisik Rani.
Jeffri menatapnya lekat. “Saya nggak bisa diam, Mbak. Dari tadi saya lihat, Mbak kayak terjebak di kandang emas. Saya… nggak tahan.”
Rani menggigit bibir, menahan air mata. Perlahan, ia melangkah lebih dekat. “Kamu sadar nggak, Jeffri… kalau aku ketahuan ketemu kamu begini, habis sudah karierku. Bahkan mungkin hidupmu juga ikut hancur.”
Jeffri menahan napas, lalu berkata tegas, “Biarpun begitu, saya tetap pilih di sini. Sama Mbak.”
Hening. Dunia seakan berhenti.
Rani akhirnya tak mampu lagi menahan dirinya. Ia menunduk, lalu bersandar di dada Jeffri. Tangannya meremas jaket sederhana itu, tubuhnya bergetar menahan tangis.
“Kenapa harus kamu yang bikin aku merasa hidup lagi…” bisiknya, suara nyaris patah.
Jeffri mengangkat tangannya, ragu sejenak, lalu memeluk Rani dengan hati-hati. Hangat, tulus, bukan milik dunia yang penuh permainan.
Namun dari kejauhan, bayangan seorang pria tampak memperhatikan. Salah satu orang suruhan Arman yang sengaja mengawasi Rani.
Bahaya itu kini semakin dekat.
To be continued… (Part 10: Ketahuan – Bayangan Arman Mengintai)