Pelukan itu hanya berlangsung sebentar, tapi cukup untuk membuat dunia Rani terasa berbeda. Ia merasakan kehangatan yang sudah lama hilang.
Namun langkah kaki yang berat terdengar di ujung parkiran. Jeffri cepat-cepat melepaskan pelukan, menoleh dengan waspada.
Dua pria berjas hitam muncul dari balik mobil. Tatapan mereka tajam, langsung mengunci ke arah Rani dan Jeffri.
“Bu Rani…” salah satu dari mereka bicara, nada suaranya dingin. “Pak Arman nyuruh kami pastikan Ibu nggak kemana-mana. Dan sepertinya… kami baru lihat sesuatu yang menarik.”
Rani menegang. Wajahnya pucat, matanya panik. “Jeffri, kita harus pergi,” bisiknya cepat.
Jeffri melangkah setengah maju, berdiri di depan Rani seolah jadi tameng. “Mbak nggak usah takut. Saya hadapi mereka.”
Pria itu mendengus. “Kamu pikir siapa kamu? Hanya driver ojol. Jangan ikut campur urusan orang besar.”
Jeffri mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. “Saya nggak peduli seberapa besar dia. Selama dia nyakitin Mbak Rani, berarti dia musuh saya juga.”
Suasana parkiran makin tegang. Lampu neon berkelip samar, suara tetesan air dari pipa bocor menambah dramatis suasana.
Rani menarik lengan Jeffri, berbisik gemetar, “Jangan, Jeffri… aku nggak mau kamu kenapa-kenapa.”
Jeffri menoleh, menatap mata Rani. Ada ketegasan di sana. “Kalau saya mundur sekarang, Mbak akan sendirian lagi. Saya nggak akan biarin itu terjadi.”
Pria berjas hitam itu mengeluarkan ponsel, memotret mereka berdua. Senyumnya licik. “Cukup. Bukti ini saja sudah cukup bikin Pak Arman murka. Besok, hidup kalian berdua tidak akan sama lagi.”
Mereka pergi, meninggalkan Rani dan Jeffri dalam kebisuan yang menyesakkan.
Rani terjatuh di kursi parkiran, wajahnya penuh air mata. “Jeffri… apa yang sudah kita lakukan? Ini akan menghancurkan kita berdua.”
Jeffri jongkok di depannya, menggenggam kedua tangannya erat.
“Mbak salah. Ini bukan kehancuran. Ini awal… kita lawan semua ini bersama.”
Rani menatapnya lama. Di tengah ketakutannya, ada sesuatu yang membara: harapan.
To be continued… (Part 11: Arman Murka – Serangan Balik Dimulai)