Hujan deras masih turun sore itu. Di dalam mobil sederhana yang baru saja berhenti di depan sebuah ruko kopi modern, suasana terasa agak canggung.
Rani — direktur muda dengan blazer elegan namun kini sedikit basah karena hujan — duduk di kursi penumpang. Rambutnya yang tertata rapi tadi kini menempel di pipi, membuat wajahnya terlihat lebih lembut.
Jeffri, si driver ojol, menoleh sebentar sambil tersenyum kecil.
“Bu, kalau nunggu hujan reda, bisa agak lama. Mau saya temenin masuk dulu? Di dalem ada kursi kosong,” katanya sopan.
Rani menatapnya, sedikit ragu. Biasanya, ia tidak pernah sembarangan singgah dengan orang asing. Tapi entah kenapa, ada rasa aman ketika bersama Jeffri.
“Baiklah… tapi jangan panggil saya ‘Bu’ terus. Saya jadi merasa tua,” jawab Rani sambil tersenyum tipis.
Jeffri terdiam sebentar, lalu mengangguk.
“Kalau begitu… Mbak Rani?” tanyanya hati-hati.
Nada itu membuat Rani terkekeh kecil. Mereka pun turun, berlari menembus rintik hujan, lalu masuk ke dalam kedai. Lampu kuning hangat dan aroma kopi menyambut mereka.
Mereka duduk berseberangan di meja kayu dekat jendela. Hujan yang menetes di kaca menambah suasana syahdu.
“Jarang sekali saya duduk seperti ini dengan penumpang saya,” kata Jeffri, memecah keheningan.
Rani menatapnya sambil memainkan cangkir cappuccino. “Jarang juga saya bisa ngobrol santai tanpa embel-embel pekerjaan.”
Hening sejenak. Tatapan mereka bertemu. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan: rasa kagum, tapi juga rasa asing yang mendekatkan.
Jeffri menunduk sebentar lalu berkata lirih, “Mbak Rani itu… beda. Dari tadi saya merasa, walau kelihatan sibuk dan tegas, tapi ada sisi yang rapuh.”
Rani sedikit tersentak dengan kalimat itu. Ia menegakkan badan, lalu tersenyum samar. “Jarang ada yang bisa lihat itu. Kebanyakan orang hanya menilai saya dari jabatan.”
Di luar, hujan mulai mereda. Tapi di dalam, percakapan baru saja menghangat.
Jeffri memberanikan diri menatap lurus ke matanya.
“Mungkin… Tuhan sengaja bikin hujan deras, supaya saya bisa ngobrol lebih lama sama Mbak Rani.”
Rani terdiam, lalu menunduk dengan pipi yang memerah samar.
To be continued… (Part 3: Momen Tak Terduga Setelah Hujan)
.jpg)