Direktur Cantik Kecantol Driver Ojol
Bab 1 – Dua Dunia yang Berbeda
Risma, seorang direktur muda berhijab dengan wajah glowing khas Indonesia, turun dari gedung perusahaannya yang megah. Tubuhnya tegap anggun, meski lelah setelah rapat panjang. Semua mata karyawan menoleh, mengagumi pesonanya yang lembut namun berwibawa.
Sementara itu, di depan lobi, Jeffri—seorang driver ojol sederhana dengan jaket hijau khasnya—sedang menunggu order. Motor tuanya terlihat biasa saja, tapi tatapan matanya penuh semangat hidup.
Takdir mempertemukan mereka saat Risma kesulitan mencari kendaraan pulang.
Risma (suara lembut, sedikit ragu): “Mas, bisa antar saya ke rumah? Aplikasi agak error.”
Jeffri (tersenyum): “Bisa, Mbak. Silakan naik.”
Perbedaan status sosial mereka terasa begitu jelas, tapi malam itu jalanan Jakarta menjadi saksi awal sebuah kisah yang tak terduga.
Bab 2 – Perjalanan yang Menggetarkan
Motor melaju membelah jalan ramai. Risma duduk dengan anggun di belakang, berusaha menjaga jarak. Namun setiap guncangan jalan membuat tangannya tanpa sadar meraih jaket Jeffri.
Jeffri bisa merasakan kelembutan itu, membuat dadanya bergetar. Risma sendiri berusaha tetap tenang, meski pipinya memerah di balik cahaya lampu kota.
Risma: “Mas, sudah lama jadi driver?”
Jeffri: “Baru dua tahun, Mbak. Ya beginilah, sederhana… tapi halal.”
Risma (senyum tipis, wajah lembut): “Saya kagum… Mas tetap semangat meski kerja keras.”
Bagi Jeffri, kalimat itu terdengar lebih indah dari apa pun yang pernah ia dengar.
Bab 3 – Benih yang Tak Disengaja
Hari-hari berikutnya, Risma sengaja selalu memilih Jeffri untuk antar-jemputnya. Hubungan mereka semakin akrab. Jeffri yang sederhana selalu mampu membuat Risma tertawa dengan celetukan jujurnya.
Di mata orang lain, seorang direktur muda sekelas Risma tak pantas dekat dengan driver ojol. Namun di mata Risma, justru kesederhanaan Jeffri membuatnya nyaman, jauh dari kepalsuan dunia bisnis.
Bab 4 – Hasrat yang Tertahan
Suatu malam hujan deras. Risma terlambat pulang dari kantor. Jeffri menjemputnya dengan jas hujan seadanya. Di tengah dingin, Risma berpegangan erat, tubuhnya menempel pada Jeffri.
Risma (lirih): “Mas… kalau saya jatuh cinta pada orang yang berbeda dunia, itu salah nggak ya?”
Jeffri (menahan gejolak hati): “Cinta nggak pernah salah, Mbak. Yang salah kalau kita nggak bisa jaga rasa itu.”
Keduanya terdiam. Jalan basah, suara hujan, dan detak jantung mereka seakan berpadu menjadi satu harmoni.
Bab 5 – Penutup Menggantung
Sesampainya di rumah, Risma menoleh sebelum masuk. Wajahnya glowing diterpa cahaya lampu teras. Ada sesuatu di matanya yang belum terucap.
Risma (senyum lembut, suara bergetar): “Makasih ya, Mas Jeffri. Semoga Allah mudahkan jalan hidup Mas.”
Jeffri (menunduk, tegar): “Dan Mbak Risma juga. Semoga selalu bahagia.”
Pintu tertutup. Jeffri hanya bisa duduk di motornya lama sekali. Hatinya penuh rasa yang sulit diredam. Hasratnya nyata, tapi ia memilih menahan—karena cinta yang sejati harus menunggu waktu yang tepat
.jpg)