Hujan akhirnya reda, hanya menyisakan sisa rintik yang menetes di atap kedai. Suasana di dalam masih hangat dengan aroma kopi dan percakapan samar dari pengunjung lain.
Rani menghela napas, matanya menerawang ke luar jendela. “Entah kenapa… hujan selalu bikin saya merasa sendiri. Padahal orang bilang saya punya segalanya.”
Jeffri memperhatikan wajahnya yang tampak lelah di balik senyum tipis. “Kadang… yang terlihat sempurna di luar, justru paling kosong di dalam,” ucapnya pelan.
Ucapan itu menusuk. Rani menoleh cepat, menatap Jeffri lebih lama dari seharusnya. Ada ketulusan yang jarang ia temukan pada orang-orang di sekelilingnya.
Sunyi sejenak. Lalu Rani menyunggingkan senyum.
“Kamu bukan orang biasa ya?” tanyanya sambil menatap mata Jeffri.
Jeffri terkekeh kecil, mencoba meredakan suasana. “Saya ini cuma driver ojol, Mbak. Orang biasa sekali. Yang nggak biasa mungkin… kesempatan bisa duduk sama direktur cantik kayak gini.”
Rani menunduk, menutupi pipinya yang merona. Tangannya yang halus tanpa sadar menyentuh ujung cangkir, lalu bergeser menyentuh meja—hanya beberapa sentimeter dari tangan Jeffri.
Ketegangan hangat tercipta. Jeffri terdiam, menimbang, lalu perlahan menggeser tangannya, hampir bersentuhan dengan jemari Rani.
Rani tak menolak. Ia justru menahan napas, seakan menunggu sesuatu.
Namun tiba-tiba, ponsel Rani bergetar di meja. Nama “Pak Arman – Komisaris” terpampang jelas. Suasana seketika berubah.
Rani menatap layar itu, wajahnya kembali kaku. Dengan cepat ia meraih ponsel dan menjawab singkat, “Ya, saya segera ke kantor.”
Ia menutup telepon, lalu berdiri sambil merapikan blazer. “Saya harus pergi. Ada rapat mendadak.”
Jeffri ikut berdiri, sedikit kikuk. “Baik, saya antar.”
Rani menatapnya sebentar, lalu tersenyum samar. “Terima kasih, Jeffri. Rasanya… saya belum pernah merasa selega ini bicara dengan seseorang.”
Jeffri hanya bisa menatapnya ketika mereka berjalan keluar kedai. Di langit, hujan sudah benar-benar berhenti, menyisakan pelangi tipis di ufuk barat.
Dan di hati mereka berdua, ada sesuatu yang baru saja tumbuh.
To be continued… (Part 4: Rahasia di Balik Status Rani)