Aroma Tubuh di Kafe Senja

what is seo
Aroma Tubuh di Kafe Senja

Langit sore itu berwarna jingga keemasan. Sinar matahari terakhir menembus kaca besar di sisi barat kafe kecil bernama Coffey. Di antara aroma kopi dan dentingan sendok yang beradu dengan cangkir, waktu seolah berjalan lebih pelan dari biasanya.

Jeffri duduk di sudut ruangan yang sama seperti dulu. Kursi kayu dengan bantalan cokelat tua, menghadap jendela besar yang memantulkan bayangan dirinya — seorang pria dengan tatapan jauh dan tangan yang gemetar halus saat menggenggam cangkir.

Sudah dua tahun sejak terakhir kali ia bertemu Sinta. Namun setiap kali aroma kopi bercampur dengan parfum lembut vanilla yang dulu sering dipakainya, ingatan itu kembali seperti udara sore yang menyelinap diam-diam lewat celah jendela.

Hingga sore itu, keajaiban kecil datang lagi.

Pintu kafe berbunyi pelan. Seseorang melangkah masuk, perlahan, seolah takut mengganggu keheningan yang sedang menari di udara. Suara langkahnya lembut, tapi cukup membuat Jeffri menoleh. Dan di sana—ia melihatnya.

Sinta.

Masih sama seperti dulu, dengan balutan hijab pastel dan mantel panjang warna krim. Ada keteduhan di wajahnya yang dulu sering membuat Jeffri lupa cara bicara. Matanya menangkap cahaya senja, memantulkan kehangatan yang membuat napasnya tercekat.

Dia tersenyum kecil, sekilas, lalu menatap sekeliling seperti mencari tempat kosong. Tapi Jeffri tahu — ia sedang menimbang sesuatu lebih dari sekadar tempat duduk.

Kafe itu pernah menjadi saksi dari banyak hal antara mereka: tawa yang pelan, percakapan yang ditahan, dan rindu yang tak pernah sampai pada kata “ya”.

“Masih ingat aku, Jeff?” Suaranya lembut, sedikit bergetar, seperti nada yang terlalu lama disimpan di hati.

Jeffri menegakkan punggungnya. Senyum kaku muncul, berusaha menahan riuh yang tiba-tiba berdesakan di dada.
“Bagaimana aku bisa lupa?”

Mereka akhirnya duduk berhadapan. Di meja yang dulu selalu mereka pilih. Meja di mana dua cangkir kopi dingin pernah menjadi saksi air mata yang tak sempat dijelaskan.


Sinta menatap cangkir di tangannya. “Aku kira kamu nggak bakal datang ke sini lagi,” ujarnya, lirih.

Jeffri menatap keluar jendela. Senja sudah mulai menipis, berganti biru gelap.
“Awalnya enggak. Tapi setiap kali lewat, kafe ini seperti memanggilku. Mungkin karena sebagian diriku masih tertinggal di sini... bersama kamu.”

Sinta menunduk. Ada senyum tipis di bibirnya, tapi juga getir yang sulit disembunyikan.
“Kamu tahu nggak, Jeff… setiap kali aku mencium aroma kopi di rumah, aku langsung ingat kamu. Padahal suamiku yang bikin.”

Suara itu seperti pisau halus yang menembus udara tanpa suara. Jeffri terdiam. Ada rasa asing, perih, tapi juga lega — semacam penerimaan yang ia tahu, cepat atau lambat, memang harus datang.

Ia menarik napas pelan. “Aku ikut bahagia, kalau kamu bahagia, Sin.”

Sinta mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu. Di balik pandangan itu, ada seribu kata yang tak diucapkan — semua terbakar perlahan di bawah cahaya lampu gantung kafe.

“Aku bahagia, tapi kadang... aku masih ingat kita,” katanya pelan.
“Kita yang duduk di sini, nunggu hujan reda. Kita yang saling diam tapi tahu saling sayang.”

Jeffri tersenyum, kali ini tulus. “Aku juga. Tapi sekarang aku cuma ingin mengingatnya sebagai sesuatu yang indah, bukan yang menyakitkan.”

Sinta mengangguk, meski matanya sedikit berkaca. “Kamu masih suka kopi hitam tanpa gula?”

“Masih,” jawab Jeffri. “Tapi rasanya udah beda, nggak sepekat dulu.”

Mereka tertawa kecil. Hanya sekejap, tapi cukup untuk menghapus sekat waktu di antara mereka.


Hujan turun tiba-tiba. Butirannya membentur kaca jendela, menciptakan simfoni lembut yang menenangkan. Kafe mulai sepi, hanya tersisa mereka berdua dan barista yang sibuk merapikan gelas.

Di sela keheningan, aroma tubuh Sinta samar tercium — campuran dari sabun melati, hujan, dan sedikit wangi kopi dari meja mereka. Bukan aroma yang menggoda, tapi menenangkan. Seolah menghadirkan kembali semua sore yang pernah mereka lewati dengan diam dan rindu.

Jeffri menatapnya lama. “Kamu masih cantik, Sin.”

Sinta menatap balik, senyum sendu menghiasi wajahnya. “Dan kamu… masih terlalu jujur.”

Keduanya tertawa pelan. Tidak ada yang berlebihan, tidak ada yang disembunyikan. Hanya dua jiwa yang pernah saling memiliki dalam diam, kini belajar merelakan dengan cara yang paling lembut.

“Kalau waktu bisa diulang,” ujar Jeffri, “aku nggak akan ubah apa pun. Termasuk perasaan yang nggak sempat aku bilang.”

Sinta menatapnya dalam-dalam. “Kadang… yang nggak terucap justru paling abadi.”

Mereka terdiam. Di luar, hujan menari di bawah cahaya lampu jalan. Waktu berjalan, tapi hati mereka seolah berhenti di antara detik yang hening.


Ketika jam di dinding menunjukkan pukul tujuh, Sinta berdiri. Ia merapikan mantelnya, menatap Jeffri terakhir kali.

“Terima kasih, Jeff… untuk kopi, dan untuk kenangan yang nggak pernah benar-benar hilang.”

Jeffri mengangguk. “Terima kasih juga, Sin. Karena dulu pernah jadi alasan kenapa aku percaya pada cinta.”

Sinta berjalan ke arah pintu. Langkahnya pelan, tapi setiap langkah terasa berat. Saat ia membuka pintu, angin senja terakhir berhembus masuk, membawa serta aroma tubuhnya yang lembut — aroma yang bagi Jeffri, akan selalu menjadi bagian dari senja itu.

Ketika pintu menutup, Jeffri menatap kembali ke meja mereka. Dua cangkir kopi tersisa di sana. Uapnya sudah hilang, tapi hangatnya masih terasa. Ia tersenyum pelan.

Kadang, cinta tak perlu berakhir dengan kepemilikan. Cukup diingat dengan doa, dikenang dengan syukur, dan dibiarkan hidup dalam setiap aroma kopi yang menenangkan.


Pesan Cerita:

Ada cinta yang hadir bukan untuk dimiliki, tapi untuk mengajarkan cara mencintai dengan hati yang tenang.
Sebab, dalam setiap aroma senja dan secangkir kopi, selalu ada kisah yang tak selesai, tapi tetap indah untuk diingat.

NDELOKYO.BP
NDELOKYO.BP Sebuah Blog yang Saya Kelola Sendiri dan ingin Share Seputar Dunia internet Dan Uang Gratisan